Hari Bahasa Arab Sedunia

Hari Bahasa Arab Sedunia;

Bahasa Arab dan Moral Muslim Indonesia

Belajar bahasa arab mampu meningkatkan motivasi hidup dan meningkatkan moral bangsa Indonesia, Benarkah?. Tidak kah ini khayalan tingkat tingkat tinggi!. Jawabannya tidak, bermula dari belajar bahasa arab.

Inni Wajjahtu Wajhiya (Sungguh Aku menghadapkan wajahku)

lilladzi Fathar as-Samawati wa al-Aradla (kepada Dzat yang telah mencipta Langit dan bumi)

Hanifan musliman (dengan lurus dan menyerahkan diri)

wa ma ana min al-Musyrikin (dan bukanlah aku tergolong orang yang menyekutukan)

Inna Shalati Wa Nusuki (Sungguh dhalat dan ibadahku ini)

Wa mahyaya wa mamati (Mati dan Hidupku)

Lillahi Rabbi al-Alamin (Hanya kepunyaan Allah Semata)

 

Bait-bait berbahasa arab di atas adalah salah satu bacaan shalat, dan dibaca minimal lima kali dalam sehari. Bagi umat Islam yang mengerti bahasa arab secara pasti bacaan di atas akan berefek terhadap kehidupannya sehari-hari. Dari sini dapat disimpulkan hubungan erat antara bahasa arab dan moral, yaitu dari aspek kemengertiannya umat terhadap bacan-bacaan ritual keagamaan yang setiap saat dibacanya. Ini baru satu bacaan, belum ritual kegamaan lainnya terkhusus lagi pemahaman dasar Alquran dengan bahasa Arab.

Yang menjadi persoalan tidak berfungsinya doa-doa dan bacaan berbahasa arab ini adalah ketidakmengertian umat dan hanya melafalkannya saja. Atau bahkan hanya sekedar menggugurkan kewajibannya saja dan juga hanya me-generalkan fungsi ibadah kepada Tuhannya. Pen-general an ini misalnya tergambar dalam pembacaan doa iftitatah di atas yang hanya difahami sebagai fungsi penggugur bacaan sunat dalam Shalat saja, tetapi tidak difahami betul larik-larik makna dari doa tersebut.

Kemampuan berbahasa arab akan menjadi kunci pembuka pembangun moral muslim Indonesia. Hal ini dikarenakan muslim Indonesia akan senantiasa menghayati dan memahami makna setiap ritualitas-ritualitas keagamaan yang dijalaninya. Tentu bila umat Islam yang senantiasa melafalkan doa-doa dan bacaan-bacaan ritual keagaman dalam shalat, doa, membaca al-Qur’an, Khutbah-khutbah, hanya terhenti pada pelafalannya saja maka tak jauh beda dengan kicau burung beo yang fasih mengucapkan bahasa manusia, tetapi tidak bermakna bagi dirinya.

Sudilah kiranya dalam suatu saat, pembaca mencoba mendengarkan lantunan suara adzan sebanyak lima kali sehari yang menggetarkan gendang ditelinga kita. Resapi makna panggilan indah itu, pahami bahwa suara itu bukan hanya tanda lonceng masuknya waktu shalat. Namun, ia adalah seruan akan kebesaran Tuhan ditengah himpitan dan kerasnya hidup di dunia Indonesia ini, seruan kesaksian ke-Islaman kita dengan Keesaan Tuhan dan Keagungan Rasul-Nya, seruan waktu untuk menghadap Sang-Pencipta dalam Shalat, Seruan untuk mencari kemenangan-kemenangan yang berada dalam garis ketetapan Tuhan yang Esa dan Agung. Dalam pemahaman makna ini, Jasmani tergerak melangkah mensucikan jasmani dari segala kotoran dan mengenakan pakaian yang suci, kemudian tanpa terpaksa menunaikan ibadah shalat menghadap sang pencipta. Setelah usai seluruhnya dalam penghayatan makna, kembali beraktivitas dalam profesinya semula dengan tetap membiarkan makna-makna itu mengalir dalam nuraninya.

 Indah bukan bisa bahasa arab. Selamat Hari bahasa Arab Sedunia Ahad, 18 Desember 2016.

 Wallahu A’lamu bis-Shawab

450words #hari bahasa Arab Sedunia

Moh. Wakhid Hidayat

mwakhidh@gmail.com

18 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s