Rihlah Ilmiah

Rihlah Ilmiah

(Mengembara Mencari Ilmu)

 

سافرْ تجدْ عوضاً عمن تفارقَه … وانصبْ فإن لذيذَ العيشِ في النصبِ

ما في المقامِ لذي لبٍ وذي أدبٍ … معزةٌ فاتركِ الأوطانَ واغتربِ

إِني رأيتُ وقوفَ الماءِ يفسدُه … إِن ساحَ طابَ وإِن لم يجرِ لم يطبِ

قول البحتري أو الشافعي أو عمارة اليميني

في كتاب مجمع الحكم و الأمثال

Pertama kali saya mendengar sya’ir hikmah ini dari Ustadz Mardjoko Idris, biasanya beliau menyampaikan ini pada kuliah pertemuan pertama sebagai motivasi bagi mahasiswa/mahasiswi. Tentu sya’ir ini sangat mengesan dihati, “Pergilah… pasti engkau akan mendapatkan pengganti dari orang yang engkau tinggalkan…”. Ketika kita merantau ke negeri orang, maka itu berarti kita berpisah dengan orang tua yang senantiasa memanjakan, sanak saudara yang sangat menyayangi kita, sahabat-sahabat kita yang selalu bersama dalam senda gurau.

Jika sya’ir ini disandarkan kepada Imam Syafi’i, maka alam imajinasi kita harus terbang memasuki lorong waktu pada masa Imam Syafi’i hidup, ada apa dibalik puisi hikmah ini?, dan merepresentasikan dunia yang seperti apa puisi ini?. Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i hidup pada tahun 150-204 H atau sekitar 800-an M. dan jika kita mengkaitkan dengan para Imam hadits -Imam Syafi’i juga ikut didalamnya- maka ditemukan satu aktivitas yang disebut Rihlah. Rihlah adalah semangat mengembara mencari hadits-hadits Rasulullah Muhammad ke berbagai daerah-daerah Islam.

Imam Bukhari misalnya, dari Bukhara sebagai tumpah darahnya berihlah ke Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Madinah, Syam, Hamsy, ‘Asqalan, Mesir. Sejenak kita bayangkan, perpindahan dari satu kota ke kota yang lain, dari satu guru ke guru yang lain,  adalah problematika jiwa yang luar biasa beratnya. Inilah yang menjadi ruh …Saafir tajid ‘iwadhan….

 

“Sesungguhnya kelezatan hidup itu berada pada beratnya beban hidup” dalam menghadapi kesedihan meninggalkan guru yang dicintai, menghadapi kesulitan-kesulitan dalam perjalanan meninggalkan satu kota dan memasuki kota yang lain. Juga, kesulitan mengenal guru yang baru, menghafal ilmu dan hadits-hadits yang baru ditemukan dengan tanpa melupakan hadits-hadits yang telah dihafal dari guru sebelumnya.

“Bagi orang yang memiliki kecerdasan dan akhlak yang tinggi, kemuliaan hidupnya tidak pada stagnasi, tetapi tinggalkanlah tanah tumpah darahmu… dan merantaulah…”. Ini menjadi semacam mantra-mantra yang menggerakkan kaki-kakinya untuk senantiasa maju ke depan mendorong raga dan jiwa untuk berpindah.

Ruang logika pun dibuka untuk mengusir rasa malas dan melanjutkan rihlah ilmiahnya mencari ilmu dan hadits-hadits rasulullah. “Aku melihat air yang berhenti, akan menjadikannya rusak, jika air itu mengalir maka akan menjadi jernih, dan jika tidak mengalir maka menjadi tidak baik alias berjentik, berpenyakit, berbau tidak sedap, berubah warnanya menjadi kehitaman.

Betapa beratnya menjadi manusia yang memiliki kecerdasan dan adab, tetapi beratnya hidup ini menjadi kelezatan dan kemuliaan yang tidak dirasakan oleh manusia yang hanya berdiam diri ditempat. Selamat rihlah ilmiah.

 

Moh. Wakhid Hidayat

Arba’iyyat edisi 11; 19-25 April 2012

http://www.iastudies.wordpress.com

 

About these ads

Posted on May 10, 2012, in Arba'iyyat. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: